Published On: 24/07/2026By Categories: Berita, Berita UtamaViews: 10

Di era informasi yang sudah sangat mudah diakses, satu pertanyaan mendasar sering muncul: masih perlukah sosok guru di dalam kelas? Jawabannya adalah ya. Namun, peran guru tersebut telah bergeser secara fundamental. Guru tidak lagi sekedar menjadi satu-satunya sumber pengetahuan (teacher centered), melainkan hadir sebagai “Gurunya Manusia”-sosok yang menyentuh dimensi paling hakiki dari murid: kemanusiaan mereka.

Istilah Gurunya Manusia-yang dipopulerkan oleh pemikir Pendidikan Munif Chatib-mengingatkan kita bahwa setiap anak lahir dengan keunikan, potensi , dan gaya belajar yang berbeda. Tidak ada produk “gagal” dalam Pendidikan; yang ada hanyalah system yang belum menemukan cara tepat untuk mengasah potensi tersebut.

Menjadi Gurunya Manusia kita harus melihat anak secara utuh dan memanusiakan  hubungan. Memandang murid bukan sekedar angka di lembar penilaian atau peringkat kelas, melainkan sebagai individu yang memiliki perasaan, cita-cita, dan bakat yang beragam. Membangun rasa percaya dan rasa aman di kela, sehingga belajar menjadi proses yang menyenangkan, bukan sarat beban.

Jika kita merefleksikan Kembali aktifitas pembelajaran sehari-hari, ada tiga hal penting yang perlu terus dirawat oleh seorang guru: Dari pengajar menjadi fasilitator kehidupan; Penemu dan pengembang potensi; Pembelajar sepanjang hayat. Teknologi dapat mengajarkan berbagai materi Pelajaran. Namun teknologi tidak dapat mengajarkan empati, ketangguhan, etika, dan cara bekerja sama. Guru hadir untuk memfasilitasi keterampilan hidup ini melalui interaksi nyata. Guru tidak memaksakan ikan untuk memanjat pohon. Guru berfokus pada pendekatan berbasis kelebihan, membantu murid menemukan apa yang menjadi keahlian serta minat terbesar mereka. Sebelum memanusiakan orang lain, guru perlu terus memperbarui diri. Dunia berubah dengan cepat, dan refleksi diri yang berkelanjutan menjadi kunci agar pembelajaran tetap relevan dan bermakna sebagai generasi masa kini.

Pendidikan pada hakekatnya adalah proses memuliakan manusia. Kurikulum boleh berganti dan teknologi pembelajaran akan terus berkembang, tetapi kehangatan senyuman, dorongan kata-kata semangat, dan kepedulian seorang guru tidak akan pernah tergantikan oleh algoritma apapun.

Kontributor/Penulis : H. Dayat, S.Pd., M.Si (Kepala MAN 1 Darussalam Ciamis)

About the Author: Andri Wicahyono